Selamat Datang Di Insanak Kitte Blog. Terima Kasih Atas Kunjungannya
Tampilkan postingan dengan label CERITA RAKYAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA RAKYAT. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 November 2012

SEJARAH KESULTANAN SAMBAS

Istana Alwazikhoebillah

Sejarah
Sumber yang digunakan oleh kaum sejarawan untuk melacak riwayat Kesultanan Sambas di Kalimantan Barat adalah dua kitab sastra bercorak sejarah, yaitu Asal Raja-Raja Sambas dan Salsilah Kerajaan Sambas. Naskah Asal Raja-Raja Sambas diperkirakan telah berusia ratusan tahun tetapi belum diketahui data yang lebih jelas mengenai asal-usul naskah yang ditulis dengan aksara Arab-Melayu ini, baik siapa penulisnya, judul aslinya, maupun waktu dan tempat penulisannya (Pabali H. Musa, 2003:50).
Kesultanan Sambas memiliki riwayat panjang dan berkaitan dengan sejarah sejumlah kerajaan lain, seperti Kesultanan Brunei Darussalam, Johor, Serawak, Sukadana dan Kerajaan Hindu Ratu Sepudak, bahkan juga dengan Kerajaan Majapahit di Jawa. Secara garis besar, riwayat Kesultanan Sambas terbagi atas dua periode, yakni pada masa Hindu dan Islam, selain juga pada masa kolonial dan pascakemerdekaan Indonesia.
 a. Kerajaan Sambas Tua pada Masa Hindu
Kesultanan Sambas sebenarnya merupakan kelanjutan dari Kerajaan Hindu Ratu Sepudak atau Kerajaan Sambas Tua. Kerajaan ini berada di bawah pengaruh Kesultanan Johor. Pada waktu itu, Kesultanan Johor sedang menapak zaman keemasannya di mana kerajaan ini memiliki daerah taklukan yang luas dan mulai menyaingi kebesaran Kerajaan Majapahit di Jawa (Musa, 2003:1).
Hegemoni Kesultanan Johor terhadap kerajaan-kerajaan lain, termasuk sebagai penyaing Mahapahit terlihat jelas karena sebelumnya Kerajaan Sambas Tua merupakan wilayah taklukan Majapahit pada era pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1351-1389 Masehi) dan Mahapatih Gajah Mada. Hal ini tercatat dalam kitab Negarakrtagama karya Mpu Prapanca yang ditulis pada tahun 1365 M (Yudithia Ratih, tt:62).
Ekspedisi Pamalayu Majapahit pada abad ke-14 M sangat berperan terhadap berdirinya Kerajaan Sambas Tua yang diawali oleh pemerintahan yang dipimpin Raden Janur dengan pusat pemerintahan di daerah bernama Paloh. Asal-muasal berdirinya pemerintahan di Paloh bermula dari kedatangan orang-orang dari Majapahit di bawah pimpinan Raden Janur pada sekitar tahun 1364 M. Setelah beberapa saat berinteraksi dengan warga lokal, mereka mendirikan pemerintahan baru dengan Raden Janur sebagai rajanya (Ratih, tt:62).
Pemerintahan di Paloh mengalami pergeseran kepemimpinan karena raja yang memimpin bukan lagi keturunan Majapahit. Hal itu terjadi karena Raden Janur tidak memiliki keturunan dan mengangkat anak bernama Tang Nunggal. Raja Tang Nunggal, yang dikenal sebagai sosok yang kejam, menimbulkan kegelisahan dari Majapahit selaku kerajaan yang membawahi Paloh. Oleh karena itu, sepeninggal Tang Nunggal, kendali pemerintahan di Paloh kembali diambil-alih Majapahit (Ratih, tt:62).
Pada pertengahan abad ke-15, pemerintahan di Paloh dipindahkan ke Kota Lama, Benua Bantanan-Tempapan, berjarak 36 kilometer ke arah barat Kota Sambas sekarang. Pada tahun 1550 M, pemerintahan di Kota Lama dipimpin oleh Ratu Sepudak dan kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Hindu Ratu Sepudak atau Kerajaan Sambas Tua. Ratu Sepudak didampingi saudaranya bernama Timbung Paseban (Ratih, tt:62).
Seiring berkembangnya Islam di nusantara, pada tahun 1570 M, pengaruh Majapahit atas Kerajaan Sambas Tua mulai melemah. Di sisi lain, Kesultanan Johor di Semenanjung Malaka justru sedang menapak masa kejayaan, termasuk berambisi untuk menguasai kerajaan-kerajaan taklukan Majapahit di Sumatra dan Kalimantan, hingga pada akhirnya Johor berhasil menguasai Kerajaan Sambas Tua. 
b. Berdirinya Kesultanan Sambas Islam
Pengaruh Islam yang masuk ke Kerajaan Sambas Tua sebenarnya datang dari Kesultanan Brunei Darussalam yang dipimpin Sultan Abdul Majid Hasan 1402 – 1408 M). Sultan ini tidak memiliki anak sehingga ketika beliau wafat pada tahun 1408 M, tahta kesultanan dilimpahkan kepada adik iparnya, bernama Ong Sum Pin, seorang muallaf keturunan Cina. Ong Sum Pin adalah suami dari Putri Ratna Dewi, adik kandung almarhum Sultan Abdul Majid Hasan. Setelah dinobatkan menjadi sultan, Ong Sum Pin menyandang gelar Sultan Ahmad (1408 – 1425 M) (Urai Riza Fahmi [ed.], 2003:2).  
Pasangan Sultan Ahmad dan Putri Ratna Dewi dikaruniai seorang anak perempuan bernama Putri Ratna Kesuma yang kemudian dikawinkan dengan seorang bangsawan Arab yang baru datang dari Mekah bernama Syarif Ali bin Hasan bin Abi Anami bin Barkat Pancaran Amir Hasan. Konon, Syarif Ali masih keturunan langsung dari Nabi Muhammad. Pada tahun 1425 M, Syarif Ali ditabalkan sebagai Sultan Brunei Darussalam dengan gelar Sultan Barkat (1425 – 1432 M) menggantikan ayah mertuanya, yaitu Sultan Ahmad (Fahmi [ed.], 2003:2).
Selanjutnya, para pemimpin Kesultanan Brunei Darussalam pengganti Sultan Barkat secara berturut-turut antara lain: Sultan Sulaiman (1432 – 1485 M), Sultan Bolqiah (1485 – 1524 M), Sultan Abdul Kahar (1524 – 1530 M), Sultan Saiful Rijal (1530 – 1581 M), hingga Sultan Syah Brunei (1581 – 1582 M). Karena Sultan Syah Brunei tidak memiliki anak, maka kemudian yang dinobatkan sebagai sultan adalah adiknya bernama Pangeran Muhammad Hasan dengan gelar Sultan Muhammad Hasan (1582 – 1598 M). Sedangkan adik bungsu almarhum Sultan Syah Brunei, Pangeran Muhammad, diangkat sebagai bendahara kerajaan (Fahmi [ed.], 2003:2-3).
Sultan Muhammad Hasan mempunyai tiga orang putra, yaitu Pangeran Abdul Jalilul Akbar, Pangeran Muhammad Ali, dan Pangeran Raja Tengah. Menurut Urai Riza Fahmi (2003), Pangeran Raja Tengah inilah yang kelak menurunkan para penguasa Kesultanan Sambas Islam (Fahmi [ed.], 2003:3). Pada abad ke-16 itu, Pangeran Raja Tengah terkenal sebagai panglima perang yang telah menaklukan banyak negeri di bawah kuasa Kesultanan Brunei Darussalam. Atas jasa-jasanya itu, Pangeran Raja Tengah dipercaya untuk memimpin Serawak. Setelah dinobatkan sebagai Sultan Serawak pada tahun 1599 M, Pangeran Raja Tengah menyandang gelar Sultan Ibrahim Ali Omar Syah atau sering juga disebut sebagai Sultan Tengah (Mawardi Rivai, tt:2-4).
Pada waktu itu, Kesultanan Brunei Darussalam berhubungan erat dengan Kesultanan Johor, terutama melalui ikatan perkawinan, termasuk bibi Sultan Tengah sendiri yang menjadi permaisuri Sultan Abdul Jalil, Sultan Johor yang bertahta antara tahun 1570 – 1571 M. Pada suatu ketika, dalam perjalanan pulang dari Johor ke Serawak, kapal yang ditumpangi rombongan Sultan Tengah dihantam badai sehingga terdampar di wilayah Kerajaan Sukadana di Kalimantan Barat. Kerajaan Sukadana pada masa itu masih menganut agama Hindu dengan rajanya yang bernama Raja Giri Mustika. Kedatangan Sultan Tengah disambut dengan suka-cita oleh Kerajaan Sukadana yang memang berminat menjalin hubungan baik dengan Sultan Tengah yang terkenal pemberani itu.
Atas perantara seorang ahli agama Islam bernama Syeh Syamsudin yang baru saja kembali dari Mekah, Sultan Tengah mengislamkan Raja Giri Mustika beserta sebagian besar rakyat Sukadana. Bahkan, Raja Giri Mustika berkenan menikahkan Sultan Tengah dengan adiknya yang bernama Ratu Surya Kesuma. Pernikahan ini dianugerahi tiga orang putra dan dua orang putri, yaitu masing-masing bernama Raden Sulaiman, Raden Badarudin, Raden Abdul Wahab, Raden Rasymi Putri, dan Raden Ratnawati (Ratih, tt:63).
Dari bibinya yang menjadi permaisuri Sultan Johor, Sultan Tengah sering mendengar tentang Kerajaan Sambas Tua. Kerajaan Sambas Tua ketika itu memang masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan Johor. Saat di Sukadana inilah Sultan Tengah semakin tertarik untuk mengunjungi Kerajaan Sambas Tua. Maka berangkatlah rombongan Sultan Tengah ke Kerajaan Sambas Tua yang terletak di Kota Lama, Benua Bantanan-Tempapan.
Di Kota Lama, rombongan Sultan Tengah disambut hangat oleh Ratu Sepudak. Pemimpin Kerajaan Sambas Tua ini mempunyai dua anak perempuan. Putri yang pertama bernama Raden Mas Ayu Anom dinikahkan dengan Pangeran Prabu Kencana yang tidak lain adalah keponakan Ratu Sepudak sendiri. Sedangkan putri Ratu Sepudak yang kedua bernama Raden Mas Ayu Bungsu. Sultan Tengah sendiri kemudian mendirikan permukiman di Kota Bangun, yang terletak tidak jauh dari Kota Lama, pusat pemerintahan Kerajaan Sambas Tua. Pembangunan permukiman ini atas persetujuan Ratu Sepundak.
Akan tetapi, belum seberapa lama Sultan Tengah bermukim di Sambas, Ratu Sepudak wafat. Sebagai penggantinya, maka diangkat Pangeran Prabu Kencana dengan gelar Ratu Anom Kesuma Yuda. Sementara itu, putri kedua almarhum Ratu Sepudak, Raden Mas Ayu Bungsu, dinikahkan dengan putra sulung Sultan Tengah, yakni Raden Sulaiman. Pernikahan Raden Sulaiman dengan Raden Mas Ayu Bungsu dikaruniai seorang putra dan dua orang putri yang masing-masing bernama Raden Bima, Raden Ratna Dewi, dan Raden Ratna  (Fahmi [ed.], 2003:5).
Tidak lama setelah kelahiran Raden Bima, yaitu pada tahun 1055 Hijriah, Sultan Tengah memutuskan kembali ke Kesultanan Serawak yang telah lama ia tinggalkan. Sementara itu, Raden Sulaiman tetap tinggal di Kerajaan Sambas Tua dan diangkat sebagai patih/menteri pertahanan dan keamanan yang dibantu oleh tiga orang pejabat, yakni Kiai Dipa Sari, Kiai Dipa Negara, dan Kiai Setia Bakti (Musa, 2003:1).
Pada perkembangan selanjutnya, terjadi perselisihan antara Raden Sulaiman dengan Pangeran Mangkurat, keponakan almarhum Ratu Sepudak. Pangeran Mangkurat merasa Ratu Anom Kesuma Yuda lebih dekat kepada Raden Sulaiman daripada dirinya yang notabene adalah orang asli kerajaan. Perseteruan itu semakin membesar ketika Kiai Setia Bakti, salah seorang abdi setia Raden Sulaiman, ditemukan tewas terbunuh yang ternyata pelakunya adalah orang-orang suruhan Pangeran Mangkurat.
Untuk menghindarkan konflik internal, Raden Sulaiman menyingkir ke Kota Bangun, tempat Sultan Tengah mendirikan perkampungan ketika pertama kali tiba di Kerajaan Sambas Tua. Kabar bahwa Raden Sulaiman keluar dari Kota Lama didengar oleh beberapa petinggi negeri yang masih menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Sambas Tua, antara lain petinggi Nagur, Bantilan, dan Segerunding yang kemudian mengajak Raden Sulaiman pindah ke simpang Sungai Subah dan mendirikan negeri di Kota Bandir (Fahmi [ed.], 2003:6). Tiga tahun berselang, Raden Sulaiman pindah ke simpang Sungai Teberau di Lubuk Madung, dan kemudian pindah lagi ke muara tiga sungai (Sungai Subah, Sungai Teberau, dan Sungai Sambas Kecil), di Muara Ulakan (Fahmi [ed.], 2003:6).
Di Muara Ulakan, Raden Sulaiman dinobatkan sebagai Sultan Sambas dengan gelar Sultan Muhammad Syafiuddin I. Sementara dua adik laki-laki Raden Sulaiman, yaitu Raden Baharudin dan Raden Abdul Wahab, masing-masing diangkat sebagai Pangeran Bendahara Sri Maharaja dan Pangeran Tumenggung Jaya Kesuma (Fahmi [ed.], 2003:6). Dengan demikian, Kesultanan Sambas resmi berdiri di Muara Ulakan, berdampingan dengan Kerajaan Sambas Tua di Kota Lama. Di Muara Ulakan inilah Raden Sulaiman membangun Istana Alwazikhoebillah.

*Untuk lebih lengkapnya baca disini

Selasa, 31 Januari 2012

KERAMAT BURUNG, TEMPAT WISATA YANG TERLUPAKAN


Kabupaten Sambas, memiliki potensi yang cukup dibidang pariwisata, baik itu wisata alam, wisata pantai, wisata bahari, dan wisata sejarah.Dari sekian banyak tempat yang ada, hanya segelintir saja yang diketahui dan dikelola ala kadarnya.Memang begitulah kenyataannya, kita ambil contoh seperti Pantai Selimpai di Kecamatan Paloh, Pantai Sera'i di Kecamatan Jawai, Danau Sebedang di Kecamatan Sebawi, Pantai Polaria di Kecamatan Selakau, Riam Merasap di Kecamatan Sajingan Besar, serta beberapa tempat lain yang mungkin tidak disebutkan diatas.Kalau dilihat kondisi daerah tersebut, tidak satupun memiliki managemen dan sistem pengelolaan yang baik, dan terkesan asal-asalan, baik itu dari sarana transportasi, sanitasi, keamanan dan lain-lain, yang sudah pasti berakibat kurang diminati oleh pecinta wisata, baik dari daerah sekitar, maupun dari daerah lainnya.
Keadaan tersebut diperparah dengan kurang perdulinya instansi pemerintah terhadap potensi yang ada, mereka bekerja sesuai kavling masing-masing, tidak perduli dengan bidang mereka apakah menyentuh atau tidak.Kalau dibandingkan dengan Pemkot Singkawang, memang sangat jauh berbeda, justru pariwisatalah yang menjadi ikon kota tersebut, sehingga bisa dihitung hampir seluruh warga Kalbar kesana dan menjadi sumber PAD yang besar bagi pemerintahannya.

Cukup dengan opini tersebut diatas, kita kembali ke Kecamatan Sambas, yang diketahui hanya memiliki wisata sejarah tersebut.Hampir semua orang tahu kalau kota Sambas memiliki Keraton Sambas sebagai tempat wisata sejarah yang sangat potensial jika dikelola dengan baik, namun tidak jauh dari kota Sambas juga memiliki satu tempat wisata sejarah yang masih belum tersentuh oleh pembangunan sama sekali.
Nama tempat tersebut adalah KERAMAT BURUNG, berada di Desa Gapura, Dusun Segarau Kecamatan Sambas.Untuk lokasi tersebut cukup terpencil, sedangkan jalur transportasi yang bisa ditembus untuk menuju ke tempat tersebut hanya melalui Desa Kartiasa atau melalui Kecamatan Sebawi.

Keramat Burung hanyalah sebuah telaga kecil berukuran 60 cm X 60 cm dengan kedalaman 60 cm juga, yang menyebabkan tempat tersebut dikeramatkan adalah cara penemuannya dan rasa airnya yang asin.Sehingga sekarang tempat tersebut dijaga oleh keturunan penemu tempat tersebut.Asal muasal ditemukannya tempat tersebut terdiri dari dua versi, versi pertama diceritakan langsung oleh pelaku sejarah tersebut, yang merupakan adik dari pemilik tanah lokasi Keramat tersebut ditemukan, sedangkan versi ke dua diceritakan langsung oleh anak dari pemilik tanah tempat keramat tersebut berada.
Berikut ceritanya berdasarkan versi mereka;

VERSI SATU:
Tempat tersebut ditemukan pada tahun 1961, ketika itu setiap masyarakat diperkenankan memiliki lahan seluas mungkin dengan cara membuka hutan seluas mungkin semampu kita, dan cara tersebut merupakan salah satu aturan non baku yang berlaku di daerah Sambas.Begitu memperluas lahan dengan cara menebang hutan dan membakar, tiba-tiba sekelompok burung yang tidak diketahui jenisnya terbang turun dilokasi tanah garapan si abang.Burung-burung itu mematuk-matuk tanah tempat mereka turun, lalu dari tanah tersebut mengeluarkan air.Begitu melihat gelagat yang kurang baik, dan kebetulan hari sudah mulai sore, kedua beradik itu memutuskan untuk pulang.

Begitu pulang mereka menceritakan kejadian tersebut kepada keluarga mereka, ditanggapi dingin, jadi mereka menganggapnya sekedar cerita biasa.Namun, begitu mereka istirahat dan tidur, si abang mendapat mimpi yang aneh, seorang kakek-kakek berpesan kepadanya untuk tidak mengganggu lahan yang ditemukan oleh burung tersebut.Begitu tersadar dari mimpinya, si abang sempat bingung dan memikirkan alamat apa sebenarnya yang terjadi.Namun, begitu pagi menjelang, keadaan si abang kurang sehat, dia terkena demam.Si adik dan ayahnya tetap melanjutkan kerja memperluas lahan garapan tadi, dan tanpa disengaja membakar lahan tersebut.

Begitu pulang ke rumah, si abang bertambah keras sakitnya, didalam sakitnya tersebut, dia sering meracau-racau seperti orang gila, setiap pembicaraannya tidak masuk akal.Upaya penyembuhan sudah dilakukan, berbagai macam obat diberikan, tetapi hari-harinya bertambah buruk saja.Kemudian dipanggilkan seorang paranormal untuk melihat penyakitnya tersebut.
Berdasarkan analisa paranormal, dia sudah terkena "Gane", jadi harus segera disembuhkan, namun sang paranormal tidak mampu untuk menyembuhkannya.

Didalam tidur sang adik, dia bermimpi bahwa kalau ingin menyembuhkan abangnya, si abang harus dibawa ke tempat dia terkena "gane" tersebut, nanti ditempat itu akan keluar air, yang bisa digunakan untuk penawar penyakitnya dan dimandikan sekaligus untuk menyadarkannya.Begitu dia terbangun dan mendapat alamat tersebut, sesegera mungkin mereka membawa abangnya kelokasi itu, dan membuat telaga dari lopakan air yang ditemukan burung itu.Begitu tiba, mereka segera membuat parit mengelilingi abangnya itu, lalu mengambil air lopakan itu untuk diminumkan dan dimandikan kepada si abang.si abang teriak-teriak seperti bukan layaknya seorang manusia, namun lama kelamaan si abang bisa tenang dan tertidur, begitu sudah tenang, lalu mereka membawanya pulang kerumah untuk diistirahatkan, alhamdulillah dalam tiga hari si abang sembuh dan bisa bicara kembali.

Dari kejadian itulah, maka mereka membersihkan tempat tersebut dan menjaganya sebagai tempat keramat sesuai dengan pesan kakek-kakek didalam mimpi si abang selama dia sakit.Berdasarkan penuturan mereka, bahwa tempat tersebut sebenarnya masih dimiliki oleh penghuni kerajaan Sambas.
VERSI DUA:
Kejadian diperkirakan tahun 1960an, tidak tahu pasti kapan tepatnya.Pada zaman itu, masyarakat yang ingin membuka lahan diperkenankan membuka seluas-luasnya dengan syarat menggunakan tenaga mereka sendiri, dan hal itu merupakan aturan tidak tertulis yang berlaku di Sambas.Ketika membuka lahan tersebut, si Bapak dan paman menggunakan cara tradisional, yaitu menebang semua pohon kemudian membakarnya, namun belum sempat dibakar oleh si Bapak, tiba-tiba ada sekelompok burung turun di tanah yang baru mereka garap.Mereka berkumpul disitu dan mematuk-matuk tanah disitu sehingga mengeluarkan air, melihat gelagat kurang baik, dan kebetulan sudah sore, si Bapak dan Paman pulang.

Cerita tersebut disampaikan ke keluarga, namun ditanggapi biasa-biasa saja.Keesokan harinya, mereka kembali bekerja, namun tetap saja burung-burung itu tidak mau beranjak dari lokasi genangan air itu, merasa ada yang aneh, mereka kembali kerumah dan menceritakan hal tersebut kembali.Akhirnya cerita tersebut menyebar dari mulut ke mulut dan sampai di telinga seorang paranormal yang Desanya berada tidak jauh dari tempat tersebut, yaitu Desa Sui Puguk.
Sang paranormal datang kerumah abang dan adik, menceritakan bahwa tempat tersebut memiliki unsur ghaib, dan menurutnya lagi, kalau airnya itu ingin dirasanya sendiri, karena menurut peninjauan mata ghaibnya, airnya itu lain dari yang lain.

Keesokan harinya mereka berangkat bersama-sama menuju lokasi, begitu sampai, dan didekati, lalu sang paranormal mengambil air dan merasakan rasanya, dan benar saja, ternyata airnya asin.Berita tersebut menyebar semakin luas dari mulut kemulut, masyarakat berbondong-bondong ingin menyaksikannya sendiri dan mengambil berkah dari air tersebut.Setiap masyarakat yang berkunjung mengambil air tersebut menggunakan tempurung, karena saking ramainya, secara tidak sengaja air yang tadinya hanya sekedar lopakan kini menjadi telaga karena air dan tanahnya ikut-ikutan terkeruk oleh masyarakat yang mengambil air.

Berdasarkan dari kedua cerita tersebut diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa air tersebut ditemukan oleh sekelompok burungdan rasa airnya asin, karena ditemukan oleh burung, maka tempat tersebut diberi nama KERAMAT BURUNG.

Semoga dengan publikasi ini bisa membuka mata kita akan keberadaan tempat wisata sejarah selain yang sudah ada.Sekedar himbauan, jika ingin ke tempat ini, disarankan untuk memperhatikan hal-hal yang berkaitan, apakah percaya atau tidak, terserah.

Sumber: Disini

Minggu, 06 November 2011

Kisah Tan Nunggal dan Bujang Nadi Dare Nandung

Pada zaman dahulu ketika keturunan Sultan sedang pergi berburu ke hutan, ketika sedang asik berburu tetapi bukan buruan yang didapatkan, tiba-tiba rombongan dikejutkan dengan tangisan suara bayi. Semua rombongan berpikir” di hutan belantara seperti ini dari mana asal suara tangisan bayi tersebut” ujar keturunan Sultan tersebut. Keturunan Sultan tersebut langsung memberikan perintah kepada seluruh prajurit yang ikut berburu untuk mencari dari mana suara bayi berasal. Setelah sekian lama mencari ternyata suara bayi tersebut berasal dari rumpun bambu, prajurit langsung diperintah untuk menebang pohon bambu tersebut, tanpa di duga dan di sangka semua rombongan di kejutkan dengan kehadiran seorang bayi yang berasal dari salah satu ruas pahon bambu. Tanpa pikir panjang, di dampingi dengan perasaan panik keturunan Sultan yang memimpin kegiatan berburu langsung memberikan perintah kepada seluruh anak buahnya untuk membawa bayi yang ditemukan di dalam bambu tersebut di bawa ke Istana untuk di temukan dengan Sultan Sambas. Secara kebetulan Sultan Sambas juga belum mempunyai anak, jadi bayi yang di temukan di hutan tadi langsung di angkat oleh Suultan Sambas untuk menjadi anaknya dan di beri nama TanNunggal. Mengapa bayi yang di temukan di dalam rumpun bambu tersebut diberi nama TanNunggal?????

Pada zaman dahulu setiap keturunan Sultan pasti di panggil dengan sebutan “Tan”, kebetulan bayi yang di temukan di dalam rumpun bambu tersebut memiliki gigi yang aneh kalau di bandingkan dengan manusia biasa atau manusia normal. Dari rahang kiri sampai rahang kanan gigi bayi tersebut menyatu seolah-olah hanya memiliki satu gigi atau sering di sebut dengan gigi tunggal, padahal kalau manusia biasa giginya tidak mungkin menyatu atau terdiri dari beberapa buah gigi, sehingga bayi tersebut di beri nam Tan Nunggal.

Tan Nunggal dibesarkan di lingkungan istana Sambas layaknya seperti anak sendiri, sehingga TanNunggal menjadi tumbuh dewasa dengan gagah berani dan dipercaya akan menggantikan posisi bapaknya (sultan Sambas) memimpin kerajaan Sambas. Pada saat TanNunggal memerintah kerajaan Sambas dia menyunting rakyat biasa menjadi istrinya dan dikaruniai dua orang anak, yaitu laki-laki dan perempuan, yang laki-laki diberi nama Nadi dan yang perempuan diberi nama Nandong. Dalam kebiasaan masyarakat Sambas biasanya anak laki-laki sering dipanggil dengan sebutan Bujang dan yang perempuan dipanggil dengan sebutan Dare, maka jelaslah anak tersebut dipanggil dengan Bujang Nadi dan Dare Nandong. Pada saat TanNunggal berkuasa di Sambas, raja TanNunggal terkenal dengan raja yang kejam karena sifatnya yang sombong dengan rakyat. Dia memimpin dengan sewenang-wenang, apa yang ia katakan dan semua keinginannya harus dilaksanakan walaupun hal tersebut dibenci oleh rakyat Sambas, banyak hal yang terjadi sehingga TanNunggal dikatakan raja yang kejam dan zalim. Pernah pada suatu saat rakyat Sambas digemparkan dengan kejadian yang sangat mengejutkan sampai-sampai TanNunggal dikatakan manusia setengah siluman. Pada saat ia memimpin TanNuanggal paling senang makan sambal asam, pada hari itu tukang masak kerajaan atau tukang buat sambal asam terlambat membuat sambal asam, sedangkan jam makan siang TanNunggal sudah sebentar lagi, jadi si tukang masak tergesa-gesa untuk membuat sambal asam untuk TanNunggal sedangkan dia sudah tahu bahwa TanNunggal tidak mau memakan tanpa sambal asam bahkan TanNunggal bisa marah, begitu takut dimarah TanNunggal si tukang masak tergesa-gesa untuk membuat sambal asam sampai-sampai jari kelingkingnya teriris lalu darahnya menetes ke dalam sambal asam yang dibuat tadi, karena waktu yang sudah sangat singkat lalu si tukang masak itu langsung mengaduk darah yang menetes tadi ke dalam sambal asam yang ia buat karena ia berpikir tidak sempat lagi membuat sambal asam yang baru. Sambal asam tersebut langsung disajikan di meja makan TanNunggal, begitu memakan sambal tersebut TanNunggal sangat kenyamanan dia berpikir “Mengapa ya sambal asam pada hari ini sangat enak berbeda dengan hari biasanya”. Lalu TanNunggal bertanya kepada si tukang masak. Si tukang masak pun tidak berani untuk berbohong, ia menceritakan bahwa sambal asam itu sudah bercampur dengan darahnya sendiri. Semenjak kejadian itu TanNunggal memerintahkan kepada tukang masak setiap kali membuat sambal asam harus dicampur dengan darah manusia.

Kembali ke cerita Bujang Nadi dan Dare Nandong, pada masa hidupnya Bujang Nadi sangat suka memelihara ayam jago dan Dare Nandong paling suka untuk menenun kain sampai-sampai dia pernah mendapatkan hadiah berupa mesin tenun yang berlapis emas, tiap hari Bujang Nadi dan Dare Nandong hanya diperbolehkan bermain berdua saja melainkan hanya berteman dengan ayam jago dan alat tenun milik Dare Nandong karena TanNunggal sangat membenci mereka jika dia berteman dengan rakyat biasa. Pada suatu kejadian, ketika Bujang Nadi dan Dare Nandong sedang asik barmain di taman istana tanpa sadar mereka di intip oleh seorang pengawal istana, tepat pada saat itu Bujang Nadi dan Dare Nandong sedang asik bercerita tentang perkawinan.

Bujang Nadi : dik, jika kamu ingin mencari pasangan hidup. Pasangan hidup seperti apa yang kamu idamkan?
Dare Nandong : adik sangat mengharapakan, nanti calon suami adik mirip dangan abang, baik itu dari segi gantengnya, gagahnya, dan sikapnya harus seperti abang. Sedangkan abang, istri seperti apa yang abang inginkan?
Bujang Nadi : abang juga berkehendak demikian, abang sangat mengharapkan istri abang nantinya seperti adik cantiknya dan tentunya hati istri abang juga seperti adik lembutnya.

Mendengar percakapan kakak adik tersebut pengawal kerajaan yang sedang mengintip tadi salah artikan, dia berpikir kakak adik tersebut ingin melakukan perkawinan sedarah, tanpa berpikir panjang sang pengawal kerajaan itu langsung melaporkan kejadian tersebut kepada TanNunggal. Raja TanNunggal sangat terkejut, dia sangat malu dengan kejadian itu, sebelum anaknya berbuat hal yang dapat merusak citra atau nama baik kerajaan Sambas bahkan dapat memberikan aib bagi kerajaan, padahal apa yang iya dengar semuanya salah belaka. TanNunggal langsung memerintahkan kepada prajuritnya untuk mengubur kedua anaknya yaitu Bujang Nadi dan Dare Nandong beserta dengan ayam jago milik Bujang Nadi dan mesin tenun milik Dare Nandong. Kemudaian kedua kakak adik tersebut di kubur hidup-hidup di daerah Sebedang Kecamatan Tebas tentunya masih di Kabupaten Sambas. Konon katanya masyarakat setempat sampai pada saat ini masih percaya bahwa kuburan tersebut sangat angker karena setiap malam jumat sering mendengar kokokan suara ayam jantan yang berasal dari kuburan Bujang Nadi dan Dare Nandong yang di kubur dalam satu makam, bahkan kadang-kadang terdengar suara orang sedang menenun kain yang juga berasal dari kuburan tersebut yang di duga milik Dare Nandong.

Sumber:
http://biacksambas.blogspot.com
Pencerita : M. Alwi


Danau Sebedang
Lokasi pemakaman Bujang Nadi dan Dare Nandong
danau ini dimitoskan sering muncul buaya putih (bahasa sambasnya : Jallu Putteh) sebagai penjelmaan dari Bujang Nadi dan Dare Nandong
Exspedisi sejarah mencari kuburan bujang nadi dan dare nandong di ceritakan beberapa kali pernah dilakukan akan tetapi tidak membuahkan hasil, pernah juga diceritakan bahwa lokasi makamnya telah ditemukan dan digali akan tetapi dan saat tong mayat baru kelihatan dari dalam tanah tiba-tiba cuaca berubah, halilintar sambar-menyambar di siang bolong dalam cuaca yang terang benderang tidak lama kemudian hujan ribut turun seketika dengan ganasnya seperti orang mengamuk.